Permasalahan sosial yang umum terdapat  dalam kehidupan masyarakatadalah adanya kelompok kurang beruntung  seperti orang miskin, anak-anak dan wanita korban tindak kekerasan, anak jalanan, pekerja anak, orang dengan kemampuan berbeda (difabel), serta kelompok rentan dan marjinal lainnya. Penanganan masyalah-masalah sosial tersebut umumnya ditangani oleh kelompok-kelompok sosial yang tumbuh diwilayah masyarakat setempat.

Desa Merdikorejo  yang berlokasi di Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman, salah satu desa yang  juga memiliki permasalahan sosial  dalam masyarakatnya. Permasalahan-permasalahan sosial yang membutuhkan pelayanan ini meliputi(1) Anak Terlantar yang bersekolah dari Play Group sampai dengan SLTA, (2) Lanjut Usia / Jompo miskin, (3) Warga kurang mampu dan miskin. (4)RASKIN bagi keluarga tidak mampu, (5) Biaya rumah sakit bagi orang sakit dari keluarga tidak mampu, (6)Bantuan biaya operasional kegiatan Taman Pendidikan  Al-Qur’an ( TPA ), (7)Santuan Idul Fitri bagi keluarga tidak mampu, (8)Modal usaha bagi keluarga tidak mampu.

Penanganan permasalahan selama ini dilakukan oleh; RT, RW, PKK, Perkumpulan KKLPMD/koperasi Pembangunan Padukuhan, Jamaah Masjid/pengajian, donatur perseorangan tokoh masyarakat, donatur tokoh maysarakat perantauan, perkumpulan Karang Taruna, perkumpulan Sinoman, perkumpulan karyawan.  Penanganan masalah umumnya sesuai dengan jangkauan yang ada dalam masyarakat tersebut, belum memenuhi jaringan secara lebih luas. Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Kesejahteraan Masyarakat menawarkan sistem berbasis jaringan untuk memenuhi pelayanan pada masyarakat   secara lebih luas. Selain mensinergikan aktifitas-aktifitas yang ada dalam satu wadah juga memberikan jangkauan lebih luas dalam penanganan masalah-masalah yang ada.

Pembangunan lembaga WKSBM di desa Merdikoredjo dilakukan melalui sosialisasi pada organisasi-organisasi yang telah ada. Dengan sosialisasi masyarakat mengenal secara lebih luas inovasi yang ditawarkan ini yakni penyatuan kegiatan-kegiatan pelayanan dan jangkauan pelayanan lebih luas karena dapat bekerjasama dengan organisasi diluar desanya. Kepemimpinan aparat yang dimotori oleh pemimpin yang paham pendekatan pada warga dengan kemampuan memberikan keyakinan akan pencapaian tujuan-tujuan penanganan masalah-masalah  secara lebih efektif dan efisien telah melancarkan  upaya pelembagaan tersebut.  Sosialisasi WKSBM  selain dilakukan melalui pertemuan dalam tingkat desa juga dilakukan melalui tingkat  yang lebih kecil pada RT dan RW. Melalui proses sosialisasi ini dapat digali kebutuhan-kebutuhan pelayanan yang ada dan terjadi proses transaksi yang intensif dengan lingkungan dan jejaring yang dapat dikenali, untuk dibina dan diperluas. Dalam proses transaksi ini tentu tidak selalu berjalan dengan mulus, terjadi tantangan yang berupa penolakan atas perubahan pola pelaksanaan kegiatan yang telah berlangsung  sejak lama.Penolakan terhadap adanya perubahan muncul disebabkan; 1)  Merasa tidak aman dengan kondisi baru yang belum diketahui sehingga perlu penyesuaian. 2) Budaya/kebiasaan yang lama telah dijalani, menyebabkan persepsi  yang salah terhadap perubahan baru yang dianggap mengganggu (Siagian; 2006)

Melalui proses transaksi yang berlangung  ini  terjadi  pemahaman  atas sumberdaya yang dapat digali secara lebih luas baik berupa  sdm, dana, sarana fisik dan teknologi yang dibutuhkan dalam pelembagaan sistem jaringan kerja yang ditawarkan. Selain itu diperjelas bagaimana program agar bermanfaat dan dapat dilaksanaan secara adil dan berkelanjutan.  Kepemimpinan yang merupakan kelompok orang yang  terlibat merumuskan doktrin dan program lembaga, mengarahkan aktifitas-aktifitas lembaga serta menetapkan dan membina hubungan-hubungan dengan lingkungannya.  Dalam kepemerintahan yang baik (good governance)  terbangun adanya kemitraan (partnership) antara pemerintah dan masyarakat. Keterbukaan informasi yang ada semakin meningkatkan pula peran masyarakat melalui partisipasi aktif dalam setiap pembangunan yang ada.

Proses pelembagaan WKSBM Di desa Merdikoredjo kemudian mampu mensinergikan aktifitas pelayanan masalah kesejahteraan sosial dalam satu wadah. Partisipasi masyarakat diwujudkan dalam   musyawarah terpadu antara Pengelola KPS, PSM, Karang Taruna, Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Agama  dihasilkan Pengelola / Kepengurusan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat  dalam bentuk WKSBM  “Sejahtera” dengan susunan pengurus terdiri dari;  Pelindung (Kepala Desa), Penasehat (Sekretaris Desa), Pendamping (Kaur Perencanaan, dan  Kabag Kesmas), Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Seksi Kesejahteraan Sosial, Seksi Rehabilitasi sosial dan Seksi Pengembangan Sosial. Struktur ini  sebagai wujud good governance, kebersamaan antar steakholder yakni  masyarakat, pemerintah dan pihak ketiga dalam  penanganan masalah kesejahteraan sosial yang berada diwilayahnya.

Jenis kegiatan pelayanan dalam masalah kesejahteraan sosial yang dirumuskan antara lain adalah;

  1. Bea Siswa bagi Anak Terlantar yang bersekolah dari Play Group – SLTA.
  2. Bantuan Alat Tulis bagi Anak Terlantar yang bersekolah.
  3. Penyantunan bagi Lanjut Usia / Jompo miskin.
  4. Bantuan bingkisan bagi Warga Kurang Mampu dan Miskin
  5. Bantuan pembayaran RASKIN bagi keluarga tidak mampu.
  6. Bantuan biaya rumah sakit bagi orang sakit dari keluarga tidak mampu.
  7. Bantuan biaya operasional kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an ( TPA ).
  8. Bantuan biaya pengadaan seragam bagi ustadz TPA.
  9. Bantuan santuan Idul Fitri bagi keluarga tidak mampu.
  10. Bantuan modal usaha berupa kambing bagi keluarga tidak mampu.
  11. Bantuan peduli gempa pada masalah penting ditempat lain seperti gempa misalnya.
  12. Rujukan ke Panti – Panti Sosial Dinas Sosial Provinsi DIY.

Kemitraan yang terbentuk adalah dalam penggalian dana dengan pihak lain, pengembangan sdm, serta upaya keberlanjutan kegiatan yang telah ada. Bentuk kemitraan yang terselenggara adalah sebagai berikut;

  1. Dinas Sosial Propinsi DIY bentuk kemitraannya meliputi;

– pengembangan WKSBM

– Dukungan  Dana

– Rujukan ke panti-panti Depsos

  1. Bagian Kesra Kab. Sleman dalam bentuk kemitraan, dukungan dana
  2. Bidang Sosial Dinas Nakersos Kab. Sleman juga dalam bentuk dukungan dana
  3. BLK Kab. Sleman dalam bentuk kemitraan Pelatihan ketrampilan
  4. PKBM Ngudi Ilmu bentuk kemitraan meliputi Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan
  • Paket A setara SD
  • Paket B setara SMP dan
  • Paket C setara SMA bagi anak putus sekolah dan tidak  mampu
  • Pinjaman komputer

Sampai saat ini diwilayah Desa Merdikorejo telah tumbuh 3 (tiga) WKSBM yaitu:

(1)WKSBM Setya Mulya di Dermo ), (2) WKSBM Sejehatera di Soka Martani, dan (3) WKSBM Amanah di Kantongan B

Pelembagaan WKSBM tidak lepas dari kepemimpinan yang mampu melaksanakan hubungan secara manusiawi melalui  konsep, kompetensi, komitmen dan konsistensi yang dimilikinya (Hadari,Martina 2005).   Dalam proses pelembagaanWKSBM pemimpin mampu melakukan  perubahan dengan metransformasikan perubahan lembaga yang dibentuk beserta program, upaya pengembangan lembaga dan konsistensi untuk keberlanjutannya.  Dalam  Pelembagaan WKSBM di desa Merdikoredjo ini terbangun dengandukungan dan kelengkapan dari lingkungannya yang berupa organisasi tradisi dan organisasi formal yang telah ada.  Dukungan membuat inovasi berupa pengenalan sistim jaringan yang berupa WKSBM menjadi berakar, normatif, & melembaga dlm masyarakat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas